Sejarah Masuknya Islam di Kedurang


ilustrasi
semakucenter - Sebelum tahun 1908, penduduk dari daerah Pasemah Lebar Kabupaten Lahat Sumatera Selatan yang pindah ke daerah Kedurang Kabupaten Bengkulu Selatan masih banyak yang mempercayai dan menyembah batu, tugu-tugu yang dianggap dewa dan ada juga yang menganut agama budha. Namun secara berangsur-angsur agama Islam mulai masuk ke wilayah itu melalui tarekat-tarekat. Salah satu tarekat yang dikenal masyarakat adalah tarekat abang.

Pengajaran agama Islam pun pada saat itu menggunakan metode anjang sana (ngecik belapik) atau seorang guru mengajarkan dengan duduk di panggung memberikan pemahaman ajaran Islam. Dari sini lambat laun Islam mulai berkembang meski aktifitas sehari-hari penduduk Kedurang masih bercampur dengan ajaran agama sebelumnya.


Melihat hal tersebut, ada tiga pemuda yang menuntun dan memperdalami ilmu agama Islam. Mereka adalah Kamas, Kenasip dan Setialam. Pada tahun 1909 Kamas terpilih menjadi kepala marga Kedurang atau pasirah oleh Pemerintahan Belanda. Dengan pengaruh pemerintahannya, serta pengetahuan ilmu agamanya, ia menekankan kepada masyarakat pada saat itu untuk merubah kepercayaan lama mereka dan menjalankan sesuia dengan syariat Islam. 

Untuk mempercepat kemajuan penyebaran agama Islam, Pasirah Kedurang pada tahun 1912 mengutus Setialam untuk merantau belajar dan mendalami agama Islam kepada Syekh M. Amin di  Pasar Bawah (saat ini Kelurahan Pasar Bawah). Setelah memperdalam ilmu agama dengan Syekh M Amin, Setialam kemudian belajar lagi ke daerah Lintang Sum-Sel untuk memperdalami ilmu agama Islam khusus terkait persoalan pernikahan Islam. 

Setelah merasa cukup menimpa ilmu, Setialam pun kembali ke Kedurang dan menyebarkan ajaran yang ia dapatkan itu ke masyarakat. Nah, tahun 1917 Kamas Pasirah Kedurang, menunjuk Setialam menjadi imam dan penghulu di Marga Kedurang. Yang kemudian diadakanlah pernikahan massal bagi pasangan suami istri walaupun mereka sudah memilki anak dan cucu mereka dinikahkan ulang secara Islam dan meninggalkan agama Budha. 

“Di sinilah Islam mulai berkembang dengan pesat, konon dulu syekh M Yamin juga pernah membantu mengajar agama Islam di Kedurang,” kata Lio Taviv tokoh masyarakat di Kecamatan Kedurang.


Pada tahun 1921 – 1926, Pasirah Kamas membentuk pengajian Al Quran yang gurunya langsung didatangkan dari Sumatera Barat bernama Engku Sitik. Pasirah memerintahkan para pemuda dari setiap marga di Kedurang untuk belajar mengaji hingga tamat dan fasih, setelah itu mereka inilah nantinya yang mengajarkan kembali tatacara membaca Al Quran di dusun mereka masing-masing, dan mereka ditunjuk langsung untuk dijadikan imam. 

Hingga di era tahun 1926 organisasi Muhammadiyah masuk ke daerah tersebut dan memberikan pendidikan baik umum maupun agama Islam, organisasi ini juga mendirikan sekolah-sekolah dan tempat mengaji lainnya sehingga dengan demikian perkembangan Islam dengan cepat menyebar. 

“Sampai sekarang penduduk di Kedurang lebih dari 95 persen menganut agama Islam,” Demikian Lio Taviv yang juga mantan Kades Lawang Agung Kecamatan Kedurang. (yip)


0 komentar

sponsored content